jenis kontrak kerja

4 Jenis kontrak kerja dalam pembangunan rumah

Posted on
Dalam mewujudkan sebuah pembangunan misalnya pembangunan rumah tinggal, pemilik rumah harus sebisa mungkin merencanakan proyek pembangunan secara matang. Umumnya pemilik rumah memberikan tugas kepada pemborong untuk merencanakan serta membangun rumah tersebut melalui kontrak kerja konstruksi. Dalam kontrak kerja terdapat beberapa jenis kontrak yang memiki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jenis kontrak ini yaitu : 1. Borongan 2. Cost Plus Fee 3. Kombinasi (borong upah) dan, 4. Borongan Per Item Pekerjaan
1. Jenis Kontrak Kerja Borongan
Kontrak kerja Borongan merupakan jenis kontrak kerja yang sudah diketahui pasti anggarannya, pemilik rumah telah menyediakan anggaran pasti yang akan diberikan kepada pemborong untuk menyelesaikan pembangunan rumahnya, mulai dari perencanaan, pengawasan sampai pelaksanaan pembangunannya.
[sc name=”iklan umum terbaik 300 x 250 float left”]
Dalam jenis kontrak kerja Borongan, proyek ini dipegang oleh pemborong utama dimana pihak pemborong wajib menyediakan bahan, alat, dan tenaga sesuai dengan RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Jika pada pelaksananaannya terdapat pengurangan atau penambahan item pekerjaan maka perlu “diadakan negosiasi antara kedua belah pihak” negosiasi ini bertujuan untuk menjaga agar pihak pemborong tidak mengalami kerugian jika ada penambahan item pekerjaan. Dalam mengantisipasi pembengkakan anggaran pembangunan rumah biasanya pemborong merencanakan anggaran pembangunan kurang dari 100% anggaran yang disediakan oleh pemilik rumah, misalnya pemilik rumah menyediakan anggaran 400 juta untuk pembangunan rumahnya dan anggaran yang direncanakan hanya 85% dari 400 juta yaitu 340 juta, maka 60 juta (sisa dari anggaran) akan digunakan untuk biaya tak terduga dari pembengkakan anggaran. Dalam jenis kontrak kerja Borongan terdapat kelebihan dan kekurangannya masing-masing yaitu :
Kelebihan :
  1. semua bahan, material bangunan dan upah pekerja dan segala sesuatu yang terkait pembangunan sudah menjadi tanggung jawab pemborong
  2. pemilik rumah tidak perlu direpotkan pada setiap tahapan pembangunan rumah karena yang mengatur adalah pihak pemborong, pemilik rumah hanya bisa duduk manis sambil mengawasi pekerjaan yang sedang berlangsung
  3. Jumlah anggaran berdasarkan kontrak kerja Borongan sudah di sesuaikan dengan RAB sehingga keseluruhan biaya diluar dari RAB yang dikeluarkan oleh pemborong sudah bukan menjadi tanggung jawab lagi dari pemilik rumah.
Baca juga :   Mudah memahami Manajemen Proyek Konstruksi
Kekurangan :
  1. kadang dalam pekerjaan yang di dasari dengan kontrak kerja Borongan, pemborong akan bekerja asal-asalan sehingga pengawasan dari pemilik rumah sangat diperlukan.
  2. bisa saja pemborong menaikkan harga bahan-bahan bangunan
  3. kadang proses pelaksanaannya lama
  4. jika pembangunan telah berjalan tetapi pada saat itu pemilik rumah ingin mengganti bahan-bahan bangunan maka pemilik rumah wajib mendiskusikan kembali anggaran yang telah direncanakan oleh pemborong
  5. kesalahan perencanaan akan berakibat fatal dan dapat menimbulkan pembengkakan anggaran yang dapat menghasilkan kerugian dari kedua belah pihak. Untuk itu perlu diadakan negosiasi antara pemilik rumah dan pemborong agar pekerjaann rumahnya tidak dikerjakan dengan buru-buru dan sebisa mungkin tetap konsisten dari perencanaan yang direncanakan.
2. Jenis Kontrak Kerja Cost Plus Fee
Cost Plus Fee merupakan jenis kontrak kerja yang memiliki 2 tipe yaitu : biaya yang ditambah dengan persentase biaya dan biaya ditambah dengan jasa yang disediakan.
2.1. Biaya yang ditambah dengan persentase
Untuk biaya yang ditambah dengan persentase biaya, biasaya anggaran yang telah dihitung kemudian dilebihkan beberapa persen, misalnya pada pekerjaan pondasi rumah telah dihitung berdasarkan analisa kuantitas pekerja dan bahan tetapi setelah dihitung dilebihkan 10% (10% biasanya angka yang umum digunakan oleh pemborong dalam Cost Plus Fee).

Leave a Reply