4 Penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi

4 Penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi

Mempelajari penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi merupakan sebuah informasi yang sangat berharga bagi anda yang berencana memborong item pekerjaan di dunia konstruksi. Pasalnya, tiap pekerjaan pasti memiliki resiko, dan resiko berbanding lurus dengan keuntungan. Semakin besar resiko yang di hadapi oleh pemborong, maka semakin besar pula keuntungan yang akan di dapatkan oleh pemborong tersebut.

Berhubung resiko di dalam dunia konstruksi tak main-main, hal ini menyebabkan pemborong harus sangat berhati hati terhadap segala keputusan yang di ambil dalam menjalin kerjasama dengan kontraktor pelaksana. Untuk menghindari kerugian yang.mungkin akan di hadapi oleh pemborong kali in perpusteknik.com akan memberikan informasi hal apa saja yang menjadi penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi.

4 Penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi

1. Memprediksi harga borongan tanpa melihat gambar kerja

Jika anda sebagai pemborong, anda harus berhati-hati dalam menentukan harga borongan yang akan anda ajukan pada kontraktor pelaksana. Jangan langsung menyetujui harga borongan yang di tawarkan oleh kontraktor pelaksana jika pembicaraan hanya melalui telfon tanpa anda melihat langsung gambar kerja yang akan anda kerjakan nanti. Saya yakin sebagian pemborong yang mengalami kondisi seperti ini pasti sangat menyesal karena ini adalah langkah awal dari penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi.

Jika di dalam memprediksi harga borongan seorang pemborong yang sudah memiliki pengalaman yang cukup pasti akan melakukan perhitungan berdasarkan satuan harga entah itu berdasarkan /m, /m2, /m3 ataupun berdasarkan lump sum. Lalu bagaimana seorang pemborong memprediksi satuan harga pekerjaan sedangkan pemborong itu sendiri tidak mengetahui seperti apa item-item yang akan dikerjakan pada gambar rencana? Untuk menghindari resiko tersebut saya menyarankan anda selalu pelajari gambar kerja sebelum menentukan harga borongan. Dalam mempelajari gambar rencana normalnya anda membutuhkan waktu 1 hingga 3 hari sebelum anda mulai memborong pekerjaan.

Baca juga :   2 Cara mudah menentukan campuran beton berdasarkan mutu beton
2. Kurang peduli terhadap keterlambatan material

Jika anda masih tergolong pemborong pemula dan belum terlalu berpengalaman, anda mungkin kurang peduli apabila terjadinya keterlambatan pasokan material di lapangan, tetapi berbeda dengan pemborong senior atau yang sudah memiliki pengalaman yang sangat banyak. Pasalnya, ketika material macet / mengalami keterlambatan, hal ini akan menyebabkan pekerja, tukang dan kepala tukang menjadi nganggur dan ini akan menyebabkan bobot yang akan di hasilkan dari pekerjaan yang dikerjakan hanyalah kecil yang artinya pemborong akan mengalami kesulitan dalam mengejar pembayaran gaji tukang. Selain menjadi penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi, resiko amarah dari pekerja, tukang dan kepala tukang pun akan ditanggung oleh pemborong. Jika anda masih merasa bingung dengan penjelasan ini, saya akan menjelaskannya secara rinci.

  1. Berbeda dengan pemborong. Pekerja, tukang dan kepala tukang di gaji harian tetapi kadang penggajian di akumulasi dan diberikan /minggu atau /2 minggu.
  2. Jika pekerja, tukang dan kepala tukang tidak bekerja, maka gaji harian mereka tetap berjalan selama pemborong belum memberhentikan mereka bekerja.
  3. Disisi lain pemborong harus bertanggung jawab terhadap biaya pekerja, tukang dan kepala tukang yang terus berjalan tiap harinya.
  4. Disisi lain, pemborong mendapatkan uang dari kontraktor pelaksana berdasarkan progress / bobot pekerjaan yang dikerjakan oleh pekerja, tukang dan kepala tukang.
  5. Jika material macet, otomatis bobot yang akan dihasilkan oleh pekerja, tukang dan kepala tukang sangatlah lambat atau sedikit.
  6. Jika bobot yang dihasilkan begitu lambat ataupun sedikit,maka uang yang akan di dapat oleh pemborong dari kontraktor pelaksana bisa jadi tidak sebanding dengan perhitungan gaji harian pekerja, tukang dan kepala tukang yang terakumulasi /minggu atau /2 minggu.
  7. Akibatnya, pemborong akan menutup gaji para pekerja, tukang dan kepala tukang dengan uang miliknya sendiri bukan dari hasil pekerjaan yang dikerjakan. Semakin banyak jumlah pekerja dan tukang yang diadakan oleh pemborong, maka semakin banyak juga resiko kerugian yang akan ditanggung oleh pemborong.
  8. Hal-hal seperti inilah yang membuat penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi dan inilah menjadi sebuah kewajiban dimana pemborong berhak menekan pihak kontraktor untuk menjamin ketersediaan material.
3. Tidak membuat perjanjian secara tertulis dengan kontraktor

Jika anda menjadi pemborong yang terlibat di dunia konstruksi, jangan pernah menyepelekan “perjanjian kontrak” karena bisa jadi, hal ini juga yang menjadi penyebab pemborong mengalami kerugian. Tanpa perjanjian kontrak, sudah dapat dipastikan akan ada banyak masalah yang akan anda hadapi karena pekerjaan dibidang konstruksi pasti akan ada revisi sebelum ataupun sementara pekerjaan dilapangan sedang berlangsung yang biasanya juga dikenal dengan istilah “adendum kontrak“.

Baca juga :   Kuliah sambil kerja atau kerja sambil kuliah ?

Misalnya, ketika anda telah sepakat dan menyetujui harga borongan yang telah diminta oleh kontraktor pelaksana sampai dengan pekerjaan itu selesai dikerjakan, dan ditengah perjalanan pekerjaan, ternyata telah terjadi adendum yang dimana terdapat pekerjaan tambahan pada beberapa volume pekerjaan atau item pekerjaan baru yang sebelumnya tidak ada pada saat menyetujui harga borongan, maka seharusnya hal-hal seperti inilah yang harus dituangkan di dalam perjanjian kontrak sebelum anda memulai borongan pekerjaan. Ketahuilah, ada beberapa hal penting yang harus dituangkan di dalam perjanjian kontrak, yaitu :

  1. Perubahan harga borongan jika terjadi adendum.
  2. Ketentuan waktu penerimaan gaji berdasarkan progress pekerjaan.
  3. Hak dan kewajiban yang harus dijalani antara pemborong dan kontraktor pelaksana dalam menjalin kerjasama.

Penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi sangat sering terjadi ketika tidak ada perjanjian kontrak yang tertulis yang mengikat antara pemborong dan kontraktor pelaksana karena bisa jadi, ketika pemborong mengalami kerugian akibat kesalahan kontraktor pelaksana, maka tidak ada bukti kuat yang dapat dijadikan bahan tuntutan untuk menutupi ganti rugi yang ditanggung oleh pemborong.

4. Tidak memiliki strategi kerja

Tidak memiliki strategi kerja juga dapat menjadi salah satu penyebab pemborong mengalami kerugian di dunia konstruksi. Walaupun ada kepala tukang yang bertanggung jawab dalam mengorganisir para pekerja dan tukang di lapangan, pemborong juga bertanggung jawab menyusun strategi kerja agar bisa mencapai bobot yang tinggi dalam pekerjaan secepatnya sehingga dapat menyesuaikan dengan pembayaran pekerja, tukang dan kepala tukang /harinya dalam akumulasi /minggu atau /2 minggu. semakin bagus strategi kerja yang disusun oleh pemborong, maka semakin besar pula keuntungan yang akan diterima oleh pemborong. strategi kerja yang harus dipertimbangkan oleh pemborong antara lain :

  1. Mengerjakan pekerjaan yang menghasilkan bobot yang lebih tinggi terlebih dahulu.
  2. Menentukan jumlah pekerja dan tukang untuk mengejar bobot berdasarkan tanggal dan hari yang ditentukan.
  3. Mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga yang mungkin akan terjadi.
Mohon dukungannya...
Ayo dukung website perpusteknik.com dengan berlangganan konten terbaru !! caranya dengan mengklik lonceng disudut kiri bawah atau lihat petunjuknya disini… dan jangan lupa juga bagikan konten-konten di perpusteknik.com untuk saling menambah pengetahuan melalui media sosial. Terima kasih atas dukungannya ^_^…

Perpus Teknik

Pemilik sekaligus pengelola Website Perpusteknik.com

Leave a Reply

Hak Cipta © PerpusTeknik 2020